Thursday, October 30, 2014

Momentum Sumpah Pemuda : Pemuda, Lain Dulu Lain Sekarang


A : Ingat sekarang tanggal berapa ?
B : mmm....bentar lihat kalender dulu.
     Tanggal 28 Oktober.
A : Trus ?
B : Lha terus kenapa?
A : Di tanggal itu apa yang istimewa ?
B : Mmm... apa yah? Lupa....
A : Kamu masih muda kok udah lupa sama sejarah
B : Iya maaf.... emang ada hal istimewa apa sih?
A : Penasaran ? Pengin tahu jawabannya?
B : Pastinya pengin tahu, cepet kasih tahu
A : Yuk capcus bareng ke PKM Joglo
B : Lho ngapaian kesitu?
A : Jawaban pertanyaan mu ada di Kasela Spesial Sumpah Pemuda
B : Yaudah tunggu apa lagi...yuk kesana.

YukKajian YukShare...
Kasela kembali hadir dengan tema yang sangat menarik untuk disimak “Pemuda, Lain Dulu Lain Sekarang”. Pas sekali dengan momentum sumpah pemuda 86 tahun silam. Lalu kenapa peristiwa tgl 28 Oktober 1928 itu harus diingat, dikaji, didiskusikan? Toh itu telah menjadi bagian dari sejarah?
     
     Benarkah peristiwa itu hanya menjadi bagian dari sejarah? Menjadi kenangan yang lapuk dimakan masa dan hanya tercantum dalam buku pelajaran Sekolah Dasar. Semoga kita bukanlah pemuda yang berpikir seperti itu. Mahasiswa haruslah peduli dengan sejarah. Minimal ada hikmah dan pembelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa masa lalu.

Hadir sebagai pembicara adalah mas Dwika dari Fakultas Teknik.
    Ada quote yang sering kita dengar : “Berikan aku 1.000 orang tua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang dunia”. Kata-kata yang luar biasa menginspirasi, penuh semangat dan pengharapan kepada para pemuda. Namun masih kah ucapan Bung Karno tersebut relevan diterapkan pada masa sekarang? (jawabannya ada di hati kalian maisng-maisng). 

    Bila menelisik lebih jauh lagi, akan timbul pertanyaan “Apakah Rasulullah masih menjadi pemuda saat terjun di dunia dakwah?”. Rasulullah diangkat menjadi rasul di usia yang bisa dibilang tak lagi muda. Tapi sesungguhnya kiprah Rasulullah telah dimulai sejak beliau masih belia. Sebut saja ketika terjadi sengketa saat memindahkan Hajar Aswad. Rasulullah bisa menawarkan solusi brilian yang diterima oleh para kabilah pada masa itu. Gelar Al Amin sudah beliau sandang karena kejujuran yang tak pernah ternoda. 

    Masih ingat dengan tokoh revolusioner Muhammad Al Fatih ? Beliau berhasil menaklukan Konstantinopel di usia yang masih belia. Tidak dipungkiri ada beberapa kisah pemuda lainnya yang juga berhasil mengubah dunia. 

      Dunia ini dihuni oleh 2 karakter yaitu : golongan tua dan pemuda. Masing-masing memiliki formulanya yang unik dan khusus. Golongan tua mengedepankan musyawarah, penuh pertimbangan, kehati-hatian, cenderung lamban bahkan mungkin kaku. Lain halnya golongan pemuda yang emosional, penuh semangat, bergerak cepat, fleksibel pada perubahan zaman dan inovator sejati. Namun keduanya sebenarnya sama-sama berjuang dengan formula dan karakternya masing-masing.

Bagaimana pemuda bisa berperan dalam dunia dakwah ?
Pemuda memiliki banyak waktu, media, kesempatan untuk menuntut ilmu. Maka pergunakanlah senjata ilmu untuk mengubah dunia. Jadilah master dan expert di bidang kalian masing-masing. Gunakan akademis dan kompetensi untuk berdakwah dan mensyiarkan Islam.
Kadang kita “lebih tergoda untuk menjadi orang biasa saja”. Mempunyai banyak waktu luang, hidup tenang dan datar-datar saja. “Padahal tiap orang mempunyai mata aiar kepahlawanan “, tutur mas Dwika. Mata air itu akan mengalir keluar, jika dibiarkan maka akan tergenang. Genangan itu akan pupus diterpa sinar matahari atau membusuk menjadi sarang penyakit. Sebaliknya jika aliran mata air itu menempuh suatu rute, atau alur, maka amata air itu akan terus mengalir tanpa pernah berhenti.

Apa yang dipunyai pemuda zaman dulu?
Mereka memiliki suatu formula tersendiri untuk berjuang. Misalnya saat pertentangan waktu kemerdekaan mereka merumuskan strategi apa yang tepat. Selain itu pemuda zaman dulu memiliki kejelasan visi. Sehingga dalam merumuskan strategi dan pergerakannya, mereka memiliki tujuan yang jelas.

Apa yang tidak dipunyai pemuda zaman sekarang?
Tidak adanya visi yang jelas. Pemuda bergerak tanpa ada sinergi dengan kelompok pemuda yang lain. Sehingga hasil yang dicapai belum maksimal. Formula pemuda masa lalu mungkin sudah tidak relevan untuk diterapkan masa sekarang. Karena kita mengahapi era yang berbeda, musuh yang berbeda dan tantangan yang berbeda pula.

Sehingga perlu adanya kesatuan visi, kemauan yang kuat, lalu perumusan strategi menuju sinergi. So, mulailah untuk berbenah diri. Jika pemuda masa lalu berhasil mengukir sejarah dengan Sumpah Pemuda-nya, maka marilah kita buat goresan karya kita di jalan dakwah ini dengan warna tinta masing-masing. Sehingga akan tercipta padu padan warna yang unik, indah dan tentunya menginspirasi generasi pemuda lainnya.


Thursday, October 23, 2014

Seru dan Ceria di Eksis Fun Education (EFE)

Kali ini, Eksis mengadakan kegiatan bertajuk edukasi yang dikemas secara “apik-fun”di MI Roudlotul Huda, Sabtu (27/9). Acara ini melibatkan hampir seluruh fungsionaris Eksis serta seluruh warga sekolah MI tersebut mulai dari guru, penjaga sekolah dan para siswa dari kelas 1-6. Eksis menyuguhkan berbagai perlombaan dan games berbasis “edukasi” namun bersentuhan dengan nilai-nilai Islam. Harapannya para siswa-siswi MI tersebut dapat mengembangkan bakat dan potensinya layaknya mutiara yang menyinari peradaban Islam.


      Tidak seperti biasanya, pagi yang cerah itu para siswa MI memakai pakaian olahraga bukan seragam pramuka. Mereka tidak membawa buku pelajaran, juga memang tidak ada pelajaran hari itu. Lho kok gitu? Yup, 1 hari itu spesial untuk belajar-bermain-berlomba-bergembira.
      Kegiatan bernama “Eksis Fun Education” atau yang  selanjutnya disebut EFE dimulai pukul 07.00. Para siswa, guru dan beberapa panitia menggerakan badan ditemani ritme musik senam yang . Walau keringat mulai bercucuran, namun tawa canda riang gembira menjadi penawar panas matahari pagi itu.
       Setelah itu, serangkaian acara seremonial pembukaan pun dimulai. Diawali dengan pembukaan oleh MC, pembacaan tilawah, menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lalu sambutan ketua panitia Sani Noor Rohman dan dilanjut sambutan Ibu Kepala Sekolah sekaligus membuka acara EFE.
Tanpa berbelit-belit soal waktu, peserta kemudian diarahkan menuju perlombaannya masing-masing. Kelas 1 lomba menggambar dan mewarnai, kelas 5 lomba Ranking 1, kelas 6 lomba Kaligrafi.  Ada pula lomba adzan, lomba baca puisi dan Pildacil. Sedangkan kelas 2, 3, dan 4 antusias mengikuti games di halaman sekolah.
       1, 5 jam berlalu daftar pemenang tiap lomba telash selesai direkap. Saatnya pembagian hadiah.... Eits.. tunggu dulu. Ternyata para guru tak mau kalah. Mereka adu kretifitas di perlombaan baca puisi untuk guru. Pemenang ditentukan dari meriahnya suara tepuk tangan pemirsa.
      Pemirsa yang terdiri dari para siswa dan fungsionaris Eksis menikmati satu hiburan berupa perform rebana klasik. Suara – suara merdu berpadu dengan alunan alat musik menjadi angin segar di siang hari itu. Lelah setelah mengikuti lomba, para peserta disuguhi es buah segar dan sehat. Dengan resep berupa cinta-kebersamaan-persaudaraan  ditemani snack ringan.
       Sampailah pada acara penganugerahan juara beserta hadiahnya. Tiap lomba diambil 2 pemenang, 1 siswa dan 1 siswi. Bagi mereka yang belum menjuarai perlombaan, tidak usah galau. Karena panitia telah meyiapkan doorprize untuk peserta yang beruntung. Menit-menit terakhir diisi dengan momen-momen keakraban berupa foto bersama dan sharing-sharing rileks.
       Sampailah pada penghujung acara yaitu penutupan. Pembacaan doa, ucapan permintaan maaf atas beberapa kekurangan dan ungkapan ribuan terima kasih panitia sampaikan pada pihak sekolah. Yang telah memfasilitasi tempat, waktu dan peserta serta konsisten menjaga keberlangsungan acara dari tahap persiapan sampai finishing. Sungguh, mereka (para guru) menjadi sosok inspirasi yang membimbing panitia dalam menyajikan kegiatan ini. Selain itu, potensi para siswa menjadi cahaya kemerlap yang semoga nantinya semakin kemilau menyinari bumi Indonesia.

Saturday, October 18, 2014

Guru Wanita Pertama dalam Islam

Assalamualaikum....

    Mempelajari shirah Nabawiyah, memang membuat kita menyadari banyak hal. Diantaranya tentang akhlak para sahabat dan shahabiyah yang menjadi suri tauladan bagi umat islam. Terkadang Kisah yang haru, penuh perjuangan, bahkan suka duka menjadi rangkaian cerita “real story” yang sampai kapan pun akan indah dikenang masa. Maka, bagi kita yang merupakan generasi setelah Rasuullah, ada baiknya belajar dari kisah-kisah para shahabat-shahabiyyah tersebut, agar bisa mengambil hikmahnya dan menerapkan dalam kehidupan saat ini.
       Kajian Muslimah D’Gia pada kesempatan kali ini, Jumat (17/10) mengusung tema “Guru Wanita Pertama dalam Islam”. Ada yang bisa jawab, siapa guru wanita pertama dalam Islam? Jawabannya adalah Asy-Syifa’ binti Abdullah bin Abdi Syams bin Khalaf bin Sadad bin Abdullah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab al-Qurasyiyyah al-Adawiyah. Asy-Syifa’ ra menikah dengan Abu Hatsmah bin Hudzaifah bin Adi dan Allah mengaruniakan seorang anak kepada beliau yang bernama Sulaiman bin Abi Hatsmah.
     Asy-Syifa merupakan salah satu figur teladan kaum hawa. Beliau membuktikan bahwa kaum hawa tidak hanya mengurus rumah tangga namun juga bisa berkarya dan berprestasi. Lalu, apa keistimewaan shahabiyyah yang satu ini
1. Beliau termasuk golongan muslimah yang utama
    Asy-Syifa’ ra masuk Islam sebelum hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan beliau termasuk muhajirin angkatan pertama dan termasuk wanita yang berba’iat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Beliaulah yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Mumtahanah: 12)
2.          Di masa jahiliyyah Asy-Syifa’ telah dikenal sebagai guru dalam membaca dan menulis. 
    Tatkala beliau masuk Islam beliau tetap memberikan pengajaran kepada wanita-wanita muslimah tanpa mengharap pamrih. Oleh karena itulah, beliau disebut sebagai ‘guru wanita pertama dalam Islam’. Salah satu murid Asy-Syifa’ adalah Hafshah binti Umar bin Khatthab ra istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.
3.      Asy-Syifa sebagai Ahli Ruqyah sejak sebelum memeluk islam.
    Telah diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam meminta kepada asy-Syifa’ untuk mengajarkan kepada Hafshah tentang menulis dan sebagian Ruqyah (pengobatan dengan doa-doa). Ketika telah memeluk islam, Asy-Syifa melakukan ruqyah dengan lafal doa-doa kepada Allah .
     
      Demikian keutamaan shahabiyyah Asy-Syifa binti Harits yang semoga menjadi alarm bagi para muslimah. Bahwa muslimah dapat berkontribusi dalam dakwah. Karena tidak hanya kaum pria, muslimah pun berhak atas pahala dan syurga. So, islam menunggu sepak terjang para muslimah yang  cerdas nan kreatif.

Wednesday, October 15, 2014

Bersama, Kita Sukseskan Gerakan : Back to Masjid

Kasela (Kajian pekanan tiap hari Selasa sore) tanggal 7 Oktober 2014 kemarin, mengusung tema “Back to Masjid”. Yup, tema itu semacam frasa (dalam bahasa Indonesia) yang sudah sering kita dengar namun masih terasa asing bagi mereka yang memang belum familiar dengan hal itu. Karena kasela edisi kali ini berhasil menyedot “attenton” dan “interest” para peserta sekitar 50 orang yang terdiri dari fungsionaris Eksis, mahasiswa umum dan mahasiswa baru.  Hadir sebagai pembicara adalah Mas Tony Taprianto yang berkenan membagikan ilmu dan pengalaman nya dengan penuh semangat.
 
Allah berfirman
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menuaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. at-Taubah:18)

Yuk cintai masjid seperti mencintai rumah sendiri. 
Layaknya rumah sendiri, maka kitalah yang bertugas untuk menjaga, mengisi, menghidupkan, dan merawatnya. Rasa cinta itu, tercermin dari kerinduan akan suasana masjid. Masjid yang sejuk, tenang dan menentramkan hati. Berbahagialah karena dengan mencintai masjid, kita termasuk golongan orang yang beruntung, seperti diriwayatkan dalam hadist
“Ada 7 golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah; salah satunya ialah seseorang yg hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Cinta masjid sudah, lalu apa tindak lanjutnya?
Ajaklah orang lain untuk mencintai dan memakmurkan masjid juga. Sangat miris ketika di era sekarang masjid bertambah jumlahnya dengan sangat pesat, namun tidak dibarengi dengan pertambahan jama’ahnya. Tugas kita sebagai pemuda untuk ikut serta membangun barisan-barisan shaf dalam shalat. Sehingga masjid itu akan kokoh secara fisik oleh tiang penyangga masjidnya dan kokoh oleh kaki-kaki para jamaahnya. 

Jamaah masjid yang banyak, ngapain aja di masjid?
Masjid sebagai tempat untuk beribadah itu sudah pasti.  Bukan hanya shalat lima waktu tapi ibadah yang lain seperti shalat sunnah, tadarus Al Quran, berdzikir, dan lain-lain. Nah, agar masjid juga terlihat hidup bukan hanya menjelang waktu shalat saja, bisa kita manfaatkan masjid sebagai tempat untuk musyawarah, atau diskusi yang bermanfaat. Dengan jaminan tidak merusak, mengganggu esensi utama dari masjid tersebut. 

So, mari sukseskan gerakan “Back to Masjid” mulai dari sekarang...

Sunday, October 12, 2014

Kompetisi : Penganugerahan Juara Lomba Poster tingkat Regional


 Eksis akhirnya menganugerahkan hadiah total 1,5 juta rupiah kepada 3 besar juara lomba Poster Islami tingkat Regional se-Jateng DIY pada acara SIMABA, Ahad (21/9) di gedung B6 Fbs. Esensi dari lomba ini adalah menjalin silaturahim dengan masyarakat , sarana menggali bakat desain peserta, dan yang utama adalah mensyiarkan dakwah Islam lewat media.

Dakwah itu menyeluruh, tidak terbatas oleh jarak, ruang, dan waktu. Misi untuk terus mensyiarkan dakwah Islam sejalan dengan prinsip Konservasi Moral Unnes itulah yang menjadi landasan terselenggaranya Islamic Poster Competition tingkat Regional se-Jateng & DIY. Lomba ini mengambil tema “Akhlak Pemuda Muslim” yang terbagi dalam subtema : Pemuda Amanah Anti Korupsi , Santun Berbusana Cerminan Akhlakmu, Yuk Cintai Lingkungan, dan Shalat Berjamaan di Awal Waktu.
Lomba yang dimulai pada tanggal 1 Juli 2104 dan diakhiri pada tanggal 13 September itu telah menyedot 24 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Jateng DIY. Alhasil terbinanya jalinan silaturahim dengan mahasiswa UNJ, UNY, UDINUS, UNDIP, UAD, Institut Seni Yogyakarta , UMY, Poltekes Yogyakarta, dan beberapa SMA/SMK.
Setelah melewati tahap penjurian yang sangat ketat, maka terpilihlah 3 besar finalis. Suatu kehormatan besar bagi Eksis karena para finalis meluangkan waktu untuk hadir dalam acara SIMABA sembari menerima pengumuman pemenang .

Dan...... Barakallah kepada Ahmad Agung Masykuri (UNY) sebagai juara I. Disusul oleh Imam Bukhari (UNJ) sebagai juara II dan Yudha Sakti P (SMA I Karangayun) sebagai juara III. Mereka berhak atas 1 paket hadiah yang terdiri dari uang pembinaan Rp 600.000 (juara I), Rp 500.000 (juara II), dan Rp 400.000 (juara III) beserta trophy dan sertifikat.


Semoga silaturahim yang telah terjalin semakin bertambah erat,
Semoga karya poster yang dibuat dengan sepenuh hati juga bermanfaat
sebagai media untuk mengingat dan memotivasi kita untuk senatiasa berakhlak mulia.