Tuesday, September 30, 2014
Thursday, September 25, 2014
PENGUMUMAN MAGANG EKSIS ROHIS FE UNNES 1435 H
Assalamu’alaikum
warohmatullohi wabarokatuh
Bismillaahirrohmaanirrohiim...
PENGUMUMAN
MAGANG EKSIS ROHIS FE UNNES 1435 H
Berikut
kami sampaikan nama-nama yang diterima magang EKSIS 1435 H.
Barokalloohu
fiikum
Selamat
bergabung bersama EKSIS
Mari
bersama tebarkan kebaikan di Kampus Biru..
Dan
semoga menjadikan kita pribadi yang lebih baik..
Untuk
selanjutnya peserta yang diterima magang WAJIB hadir dalam "Up Grading Magang" Insyaa Alloh
diselenggarakan tanggal 28 September 2014 jam 15.30 @samping Gd. C7.
Peserta
magang silahkan bergabung dengan grup “Mutiara
Kampus Biru” (https://www.facebook.com/groups/528154930652628/)
Info
selanjutnya akan diinfokan lewat SMS.
Info:
087710258894
(Putra)
089620662202
(Putri )
Syukron Jazakumulloh
khoiron katsiron, selamat bergabung dan berkontribusi.Tuesday, September 16, 2014
SIMABA
Untuk Menyambut Bergabungnya Mahasiswa Baru Fakultas ekonomi tahun 2014/1435 H , Eksis Rohis Fakultas Ekonomi Mengadakan Hajatan Besar yaitu Silatrahmi Mahasiswa Baru atau biasa di singkat SIMABA. Untuk memeriahkan acara ini pantia mengundang ustad Arif Rahman Lubis, sebagai pembicara sekaligus motivator bagi mahasiswa angkatan 2014 yang baru melaksanakan panasnya bangku kuliah. acara ini mengambil tema "Pemuda Muslim , prestasi yes , masa depan sukses" dengan tema tersebut diharakan acara bisa menjadi bekal yang baik bagi mahasiswa baru fakultas ekonomi selama masa perkuliahan 4 tahun kedepan. Seperti namanya SIMABA juga menjadi ajang silaturahmi mahasiswa muslim yang ada di fakultas ekonomi, khususnya mahasiswa angkatan 2014. ACARA INI AKAN DI LAKSANAKAN PADA TANGGAL 21 SEPTEMBER 2014 pukul 07.00 wib BERTEMPAT DI GEDUNG B6 FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG.
SATU LAGI WAJIB BAGI MAHASISWA BARU MUSLIM FE UNNES :)
SATU LAGI WAJIB BAGI MAHASISWA BARU MUSLIM FE UNNES :)
Saturday, September 6, 2014
Kisah Sahabat Nabi: Abdurrahman bin Auf, "Manusia Bertangan Emas"
Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan orang yang mula-mula masuk Islam. Ia juga tergolong sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga dan termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah setelah Umar bin Al-Khathab. Di samping itu, ia adalah seorang mufti yang dipercayai Rasulullah berfatwa di Madinah selama beliau masih hidup.
Pada masa Jahiliyah, ia dikenal dengan nama Abd Amr. Setelah masuk Islam, Rasulullah memanggilnya Abdurrahman bin Auf. Ia memeluk Islam sebelum Rasulullah menjadikan rumah Al-Arqam sebagai pusat dakwah. Ia mendapatkan hidayah dari Allah dua hari setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq memeluk Islam.
Seperti kaum Muslimin yang pertama-tama masuk Islam lainnya, Abdurrahman bin Auf tidak luput dari penyiksaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy. Namun ia tetap sabar dan tabah. Abdurrahman turut hijrah ke Habasyah bersama kawan-kawan seiman untuk menyelamatkan diri dan agama dari tekanan Quraiys.
Tatkala Rasulullah SAW dan para sahabat diizinkan Allah hijrah ke Madinah, Abdurrahman menjadi pelopor kaum Muslimin. Di kota yang dulu bernama Yatsrib ini, Rasulullah mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi Al-Anshari.
Sa'ad termasuk orang kaya diantara penduduk Madinah, ia berniat membantu saudaranya dengan sepenuh hati, namun Abdurrahman menolak. Ia hanya berkata, "Tunjukkanlah padaku di mana letak pasar di kota ini!"
Sa'ad kemudian menunjukkan padanya di mana letak pasar. Maka mulailah Abdurrahman berniaga di sana. Belum lama menjalankan bisnisnya, ia berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk mahar nikah. Ia pun mendatangi Rasulullah seraya berkata, "Saya ingin menikah, ya Rasulullah," katanya.
"Apa mahar yang akan kau berikan pada istrimu?" tanya Rasul SAW.
"Emas seberat biji kurma," jawabnya.
Rasulullah bersabda, "Laksanakanlah walimah (kenduri), walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan hartamu."
Sejak itulah kehidupan Abdurrahman menjadi makmur. Seandainya ia mendapatkan sebongkah batu, maka di bawahnya terdapat emas dan perak. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya sampai ia dijuluki 'Sahabat Bertangan Emas'.
Pada saat Perang Badar meletus, Abdurrahman bin Auf turut berjihad fi sabilillah. Dalam perang itu ia berhasil menewaskan musuh-musuh Allah, di antaranya Umar bin Utsman bin Ka'ab At-Taimy. Begitu juga dalam Perang Uhud, dia tetap bertahan di samping Rasulullah ketika tentara Muslimin banyak yang meninggalkan medan perang.
Abdurrahman bin Auf adalah sahabat yang dikenal paling kaya dan dermawan. Ia tak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk jihad di jalan Allah. Pada waktu Perang Tabuk, Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk mengorbankan harta benda mereka. Dengan patuh Abdurrahman bin Auf memenuhi seruan Nabi SAW. Ia memelopori dengan menyerahkan dua ratus uqiyah
emas.
Mengetahui hal tersebut, Umar bin Al-Khathab berbisik kepada Rasulullah, "Sepertinya Abdurrahman berdosa karena tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya."
Rasulullah bertanya kepada Abdurrahman, "Apakah kau meninggalkan uang belanja untuk istrimu?"
"Ya," jawabnya. "Mereka kutinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripada yang kusumbangkan."
"Berapa?" tanya Rasulullah.
"Sebanyak rezeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah."
Pasukan Muslimin berangkat ke Tabuk. Dalam kesempatan inilah Allah memuliakan Abdurrahman dengan kemuliaan yang belum pernah diperoleh siapa pun. Ketika waktu shalat tiba, Rasulullah terlambat datang. Maka Abdurrahman bin Auf yang menjadi imam shalat berjamaah. Setelah hampir selesai rakaat pertama, Rasulullah tiba, lalu shalat di belakangnya dan mengikuti sebagai makmum. Sungguh tak ada yang lebih mulia dan utama daripada menjadi imam bagi pemimpin umat dan pemimpin para nabi, yaitu Muhammad SAW.
Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahatul Mukminin (para istri Rasulullah). Dia bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi ibu-ibu mulia itu bila mereka bepergian.
Suatu ketika Abdurrahman bin Auf membeli sebidang tanah dan membagi-bagikannya kepada Bani Zuhrah, dan kepada Ummahatul Mukminin. Ketika jatah Aisyah ra disampaikan kepadanya, ia bertanya, "Siapa yang menghadiahkan tanah itu buatku?"
"Abdurrahman bin Auf," jawab si petugas.
Aisyah berkata, "Rasulullah pernah bersabda, 'Tidak ada orang yang kasihan kepada kalian sepeninggalku kecuali orang-orang yang sabar."
Begitulah, doa Rasulullah bagi Abdurrahman bin Auf terkabulkan. Allah senantiasa melimpahkan berkah-Nya, sehingga ia menjadi orang terkaya di antara para sahabat. Bisnisnya terus berkembang dan maju. Semakin banyak keuntungan yang ia peroleh semakin besar pula kedermawanannya. Hartanya dinafkahkan di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Walau termasuk konglomerat terbesar pada masanya, namun itu tidak memengaruhi jiwanya yang dipenuhi iman dan takwa.
Berbahagialah Abdurrahman bin Auf dengan limpahan karunia dan kebahagiaan yang diberikan Allah kepadanya. Ketika meninggal dunia, jenazahnya diiringi oleh para sahabat mulia seperti Sa'ad bin Abi Waqqash dan yang lain. Dalam kata sambutannya, Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, "Engkau telah mendapatkan kasih sayang Allah, dan engkau berhasil menundukkan kepalsuan dunia. Semoga Allah selalu merahmatimu." Amin.
sumber :https://www.facebook.com/notes/beranda-ilmu/kisah-sahabat-nabi-abdurrahman-bin-auf-manusia-bertangan-emas/177626828959287
Wednesday, September 3, 2014
assalamu'alaikum...
selamat datang Calon Generasi Emas di Kampus Biru...
OPEN RECRUITMENT
MAGANG EKSIS ROHIS FE UNNES
Untuk kalian MAHASISWA MUSLIM FE UNNES & MAU BELAJAR
PENDAFTARAN:
EKSIS_Nama_Prodi_Angkatan
Putra: 085770857120
Putri: 085728524248
Litsus : 12 & 13 September 2014
@PKM JOGLO FE.
YUK DAFTARKAN DIRIMU SEGERA!!!
selamat datang Calon Generasi Emas di Kampus Biru...
OPEN RECRUITMENT
MAGANG EKSIS ROHIS FE UNNES
Untuk kalian MAHASISWA MUSLIM FE UNNES & MAU BELAJAR
PENDAFTARAN:
EKSIS_Nama_Prodi_Angkatan
Putra: 085770857120
Putri: 085728524248
Litsus : 12 & 13 September 2014
@PKM JOGLO FE.
YUK DAFTARKAN DIRIMU SEGERA!!!
Tuesday, September 2, 2014
Thalhah bin Ubaidillah
Thalhah Memeluk Islam
Beliau
masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra. Thalhah adalah
seorang pemuda Quraisy, ia memilih profesi sebagai saudagar. Meski masih
muda, Thalhah punya kelebihan dalam strategi berdagang, ia cerdik dan
pintar, hingga dapat mengalahkan pedagang-pedagang lain yang lebih tua.
Pada
suatu ketika Thalhah dan rombongan pergi ke Syam. Di Bushra, Thalhah
mengalami peristiwa menarik yang mengubah garis hidupnya. Tiba-tiba
seorang pendeta berteriak-teriak, "Wahai para pedagang, adakah di antara
tuan-tuan yang berasal dari kota Makkah?" "Ya, aku penduduk Makkah,"
sahut Thalhah. "Sudah munculkah orang di antara kalian orang bernama
Ahmad?" tanyanya. "Ahmad yang mana?" "Ahmad bin Abdullah bin Abdul
Muthalib. Bulan ini pasti muncul sebagai Nabi penutup para Nabi. Kelak
ia akan hijrah dari negerimu ke negeri berbatu-batu hitam yang banyak
pohon kurmanya. Ia akan pindah ke negeri yang subur makmur, memancarkan
air dan garam. Sebaiknya engkau segera menemuinya wahai anak muda,"
sambung pendeta itu. Ucapan pendeta itu begitu membekas di hati Thalhah
hingga tanpa menghiraukan kafilah dagang di pasar ia langsung pulang ke
Makkah.
Setibanya
di Makkah, ia langsung bertanya kepada keluarganya, "Ada peristiwa apa
sepeninggalku?" "Ada Muhammad bin Abdullah mengatakan dirinya Nabi dan
Abu Bakar telah mempercayai dan mengikuti apa yang dikatakannya," jawab
mereka. ”Aku kenal Abu Bakar. Dia seorang yang lapang dada, penyayang
dan lemah lembut. Dia pedagang yang berbudi tinggi dan teguh. Kami
berteman baik, banyak orang menyukai majelisnya, karena dia ahli sejarah
Quraisy," gumam Thalhah lirih.

Pengorbanan Thalhah kepada Rasulullah

Diceritakan
ketika tentara Muslim terdesak mundur dan Rasulullah SAW dalam bahaya
akibat ketidakdisiplinan pemanah-pemanah dalam menjaga pos-pos di bukit,
di saat itu pasukan musyrikin bagai kesetanan merangsek maju untuk
melumat tentara muslim dan Rasulullah SAW, terbayang di pikiran mereka
kekalahan yang amat memalukan di perang Badar. Mereka masing-masing
mencari orang yang pernah membunuh keluarga mereka sewaktu perang Badar
dan berniat akan membunuh dan memotong-motong dengan sadis. Semua
musyrikin berusaha mencari Rasulullah SAW. Dengan pedang-pedangnya yang
tajam dan mengkilat, mereka terus mencari Rasulullah SAW. Tetapi kaum
muslimin dengan sekuat tenaga melindungi Rasulullah SAW, melindungi
dengan tubuhnya dengan daya upaya, mereka rela terkena sabetan, tikaman
pedang dan anak panah. Tombak dan panah menghunjam mereka, tetapi mereka
tetap bertahan melawan kaum musyrikin Quraisy. Hati mereka berucap
dengan teguh, "Aku korbankan ayah ibuku untuk engkau, ya Rasulullah".
Salah satu diantara mujahid yang melindungi Nabi SAW adalah Thalhah. Ia
berperawakan tinggi kekar. Ia ayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Ia
melompat ke arah Rasulullah yang tubuhnya berdarah. Dipeluknya Beliau
dengan tangan kiri dan dadanya. Sementara pedang yang ada ditangan
kanannya ia ayunkan ke arah lawan yang mengelilinginya bagai laron yang
tidak memperdulikan maut. Alhamdulillah, Rasulullah selamat.
Thalhah
memang merupakan salah satu pahlawan dalam barisan tentara perang Uhud.
Ia siap berkorban demi membela Nabi SAW. Ia memang patut ditempatkan
pada barisan depan karena ALLAH menganugrahkan kepada dirinya tubuh kuat
dan kekar, keimanan yang teguh dan keikhlasan pada agama ALLAH.
Akhirnya kaum musyrikin pergi meninggalkan medan perang. Mereka mengira
Rasulullah SAW telah tewas. Alhamdulillah, Rasulullah selamat walaupun
dalam keadaan menderita luka-luka. Baginda dipapah oleh Thalhah menaiki
bukit yang ada di ujung medan pertempuran. Tangan, tubuh dan kakinya
diciumi oleh Thalhah, seraya berkata, "Aku tebus engkau Ya Rasulullah
dengan ayah ibuku." Nabi SAW tersenyum dan berkata, " Engkau adalah
Thalhah kebajikan." Di hadapan para sahabat Nabi SAW bersabda, "
Keharusan bagi Thalhah adalah memperoleh ...." Yang dimaksud nabi SAW
adalah memperoleh surga. Sejak peristiwa Uhud itulah Thalhah mendapat
julukan "Burung elang hari Uhud."
Keteladanan Thalhah Bin Ubaidillah
1. Al-Qarinain atau sepasang sahabat yang mulia
Bagi
keluarganya, masuk Islamnya Thalhah bagaikan petir di siang bolong.
Keluarganya dan orang-orang sesukunya berusaha mengeluarkannya dari
Islam. Mulanya dengan bujuk rayu, namun karena pendirian Thalhah sangat
kokoh, mereka akhirnya bertindak kasar. Siksaan
demi siksaan mulai mendera tubuh anak muda yang santun itu. Sekelompok
pemuda menggiringnya dengan tangan terbelenggu di lehernya, orang-orang
berlari sambil mendorong, memecut dan memukuli kepalanya, dan ada
seorang wanita tua yang terus berteriak mencaci maki Thalhah, yaitu ibu Thalhah, Ash-Sha'bah binti Al-Hadramy.
Tak hanya itu, pernah seorang lelaki Quraisy, Naufal bin Khuwailid yang
menyeret Abu Bakar dan Thalhah mengikat keduanya menjadi satu dan
mendorong ke algojo hingga darah mengalir dari tubuh sahabat yang mulia
ini. Peristiwa ini mengakibatkan Abu Bakar dan Thalhah digelari
Al-Qarinain atau sepasang sahabat yang mulia.
2. Assyahidul Hayy, atau syahid yang hidup.
Tidak
hanya sampai disini saja cobaan dan ujian yang dihadapi Thalhah, semua
itu tidak membuatnya surut, melainkan makin besar bakti dan
perjuangannya dalam menegakkan Islam, hingga banyak gelar dan sebutan
yang didapatnya antara lain Assyahidul Hayy, atau syahid yang hidup.
Julukan ini diperolehnya dalam perang Uhud. Saat itu barisan kaum
Muslimin terpecah belah dan kocar-kacir dari sisi Rasulullah. Yang
tersisa di dekat beliau hanya 11 orang Anshar dan Thalhah dari
Muhajirin. Rasulullah dan orang-orang yang mengawal beliau naik ke bukit
tadi dihadang oleh kaum Musyrikin. "Siapa berani melawan mereka, dia
akan menjadi temanku kelak di surga," seru Rasulullah. "Aku Wahai
Rasulullah," kata Thalhah. "Tidak,
jangan engkau, kau harus berada di tempatmu." "Aku wahai Rasulullah,"
kata seorang prajurit Anshar. "Ya, majulah," kata Rasulullah. Lalu
prajurit Anshar itu maju melawan prajurit-prajurit kafir. Pertempuran
yang tak seimbang mengantarkannya menemui kesyahidan. Rasulullah kembali
meminta para sahabat untuk melawan orang-orang kafir dan selalu saja
Thalhah mengajukan diri pertama kali. Tapi,
senantiasa ditahan oleh Rasulullah dan diperintahkan untuk tetap
ditempat sampai 11 prajurit Anshar gugur menemui syahid dan tinggal
Thalhah sendirian bersama Rasulullah, saat itu Rasulullah berkata kepada
Thalhah, "Sekarang engkau, wahai Thalhah." Dan majulah Thalhah dengan
semangat jihad yang berkobar-kobar menerjang ke arah musuh dan menghalau
agar jangan menghampiri Rasulullah. Lalu Thalhah berusaha menaikkan
Rasulullah sendiri ke bukit, kemudian kembali menyerang hingga tak
sedikit orang kafir yang tewas. Saat itu Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin
Jarrah yang berada agak jauh dari Rasulullah telah sampai di dekat
Rasulullah. "Tinggalkan aku, bantulah Thalhah, kawan kalian," seru
Rasulullah. Keduanya bergegas mencari Thalhah, ketika ditemukan, Thalhah
dalam keadaan pingsan, sedangkan badannya berlumuran darah segar. Tak
kurang 70 luka bekas tebasan pedang, tusukan lembing dan lemparan panah
memenuhi tubuhnya. Pergelangan tangannya putus sebelah. Dikiranya
Thalhah sudah gugur, ternyata masih hidup. Karena itulah gelar syahid
yang hidup diberikan Rasulullah. "Siapa yang ingin melihat orang
berjalan di muka bumi setelah mengalami kematiannya, maka lihatlah
Thalhah," sabda Rasulullah. Sejak saat itu bila orang membicarakan
perang Uhud di hadapan Abu Bakar, maka beliau selalu menyahut, "Perang
hari itu adalah peperangan Thalhah seluruhnya. Hingga akhir hayatnya,
perjuangan sahabat mulia itu tak kenal henti. Sebuah sejarah besar
diukir, sejarah itu bernama Thalhah bin Ubaidillah."
3. . Thalhah Al-Jaud wal Fayyadh - Pribadi yang Pemurah dan Dermawan

4. Thalhah Al-Khair – Thalhah yang baik
Thalhah
adalah pedagang besar. Pada suatu sore hari dia mendapat untung dari
Hadhramaut kira-kira 700 000 dirham. Malamnya dia ketakutan, gelisah dan
risau. Maka ditanya oleh istrerinya Ummu Kaltsum binti Abu Bakar
Shiddiq, Mengapa Anda gelisah, hai Abu Muhammad, Apa kesalahan kami
sehingga Anda gelisah?Jawab Thalhah, Tidak! Engkau adalah isteri yang
baik dan setia! Tetapi ada yang terfikir olehku sejak semalam, seperti
biasanya pikiran seseorang tertuju kepada Tuhannya bila dia tidur,
sedangkan harta ini bertumpuk di rumahnya.? Jawab isterinya, Ummu
Kalthum, Mengapa Anda begitu risau memikirkannya. Bukankah kaum Anda
banyak yang membutuhkan pertolongan Anda. Besok pagi bagi-bagikan wang
itu kepada mereka.? Kata Thalhah, Rahimakillah. (Semoga Allah
melimpahkan rahmat-Nya kepadamu!). Engkau wanita beroleh taufiq, anak
orang yang selalu diberi taufiq oleh Allah.? Pagi-pagi, dimasukkannya
wang itu ke dalam pundi-pundi besar dan kecil, lalu dibagi-bagikannya
kepada fakir miskin kaum Muhajirin dan kaum Anshar.
Diceritakanya pula, seorang laki-laki pernah datang kepada Thalhah bin Ubaidillah meminta bantuannya. Hati Thalhah tergugah oleh rasa kasihan terhadap orang itu. Lalu katanya, Aku mempunyai sebidang tanah pemberian Utsman bin 'Affan kepadaku, seharga tiga ratus ribu. Jika engkau suka, ambilah tanah itu, atau aku beli kepadamu tiga ratus ribu dirham.? Kata orang itu, Biarlah aku terima uangnya saja.? Thalhah memberikan kepadanya uang sejumlah tiga ratus ribu.
Diceritakanya pula, seorang laki-laki pernah datang kepada Thalhah bin Ubaidillah meminta bantuannya. Hati Thalhah tergugah oleh rasa kasihan terhadap orang itu. Lalu katanya, Aku mempunyai sebidang tanah pemberian Utsman bin 'Affan kepadaku, seharga tiga ratus ribu. Jika engkau suka, ambilah tanah itu, atau aku beli kepadamu tiga ratus ribu dirham.? Kata orang itu, Biarlah aku terima uangnya saja.? Thalhah memberikan kepadanya uang sejumlah tiga ratus ribu.
Salah
seorang sahabat Nabi Muhammad bernama Thalhah bin Ubaidillah. Beliau
terkenal sebagai seorang yang sangat pemurah. Pada suatu masa beliau
berhutang lima puluh ribu dirham daripada sahabat karib Nabi Muhammad yg
bernama Utsman bin Affan. Buat beberapa lama beliau belum dapat
membayar hutangnya itu. Suatu hari Thalhah bin Ubaidillah bersama dengan
Utsman bin Affan yg sedang berjalan menuju ke Masjid besar Madinah.
"Tuan Utsman."kata Thalhah bin Ubaidillah, "sekarang saya sudah
mempunyai cukup uang untuk membayar hutang saya." "Saya hadiahkan uang
itu kepada saudara, sebab saudara selalu berhutang bagi menanggung
keperluan orang-orang lain," Jawab Utsman bin Affan.
Wafatnya Thalhah
Talhah
bin Ubaidillah meninggal dunia pada tahun 36 Hijrah bersamaan 656
Masehi. Thalhah wafat pada usia 60 (enam puluh) tahun dan dikubur di
suatu tempat dekat padang rumput di Basra. Beliau meninggal dunia
terkena panah pada peperangan Jamal. Sewaktu terjadi pertempuran
"Aljamal", Thalhah (di pihak lain) bertemu dengan Ali Ra dan Ali Ra
memperingatkan agar ia mundur ke barisan paling belakang. Sebuah panah
mengenai betisnya maka dia segera dipindahkan ke Basra dan tak berapa
lama kemudian karena lukanya yang cukup dalam ia wafat.
Tidak
ada kegembiraan paling diharapkan sahabat Rasulullah SAW, melebihi
kedudukan yang disandangkan Baginda kepada Thalhah bin Ubaidillah yang
tidak hairanlah hatinya tenteram mendengar kata-kata itu. Dialah insan
yang akan hidup dan mati termasuk salah seorang mereka yang menepati
benar apa dijanjikan Allah, dan dia tidak terkena fitnah dan tidak
mendapat kesukaran.
Rasulullah
pernah berkata kepada para sahabat, "Orang ini termasuk yang gugur dan
barang siapa senang melihat seorang syahid berjalan di atas bumi maka
lihatlah Thalhah. Hal itu juga dikatakan ALLAH dalam firmanNya : "Di
antara orang-orang mukmin itu ada orang -orang yang menepati apa yang
telah mereka janjikan kepada ALLAH, maka diantara mereka ada yang gugur.
Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya." (Al-Ahzaab: 23)Sumber : http://kisahrasulnabisahabat.blogspot.com/2012/04/thalhah-bin-ubaidillah-ra-biografi.html